Minggu, 25 agustus
2013. Terakhir kali saya menatap wajahnya ketika ia tertidur, karena libur
telah usai dan keesokan harinya saya harus kembali ke kota untuk melanjutkan
kuliah. Sore itu ia tertidur di sofa. Kupandangi wajahnya. Ia tampak begitu
lelah. Terlihat dari cara ia tertidur, dengan mulut sedikit terbuka dan
mendengkur. Tanpa selimut, dan hanya menggunakan celana pendek. Kerutan di wajahnya
semakin terlihat. Ubannya pun sudah mulai banyak tumbuh. Kulitnya legam karena
terbakar terik matahari. Saya memanggilnya Ayah.
Seiring berjalannya
waktu, saya menjadi dewasa. Namun Ayah semakin tua. Ia mulai tak sekuat dulu.
Ia mulai rapuh dan lemah. Kupandangi wajahnya sekali lagi. “Ah, Ayah. engkau tau, saya begitu mencintai Ayah.” Saya seringkali
mengingatkannya untuk tidak bekerja begitu keras. Namun tetap saja Ayah ngeyel.
Terkadang saking sibuknya bekerja Ayah sampai lupa makan dan pulang kerumah
ketika magrib.